Saya mengingat-ingat apa yang saya tulis dalam buku impian tersebut. Di buku itu, yang walaupun hanya berisi dua halaman facing page, namun menceritakan dengan rinci tentang hal-hal ingin saya capai. Tidak tanggung-tanggung, saya juga menyertakan kapan timing untuk tiap goal yang ingin saya capai tersebut.
Menarik sekali, saya teringat bagaimana saya membayangkan pada usia dua puluhan saya ingin bisa berkontribusi secara nyata dalam usaha penyelamatan lingkungan. Kemudian pada usia paruh baya, saya bisa ikut mencerdaskan anak-anak bangsa, memajukan pendidikan, dan mengayomi mereka yang merasa tidak cukup beruntung untuk mengenyam pendidikan sampai jenjang yang memadai. Well,itu hanya sebagian kecil dari mimpi-mimpi saya. Mungkin terlihat muluk, tapi toh semua orang kan berhak untuk bermimpi. Mimpi itulah yang akan melahirkan keinginan dan passion untuk terus kreatif dalam berkarya.
Sambil merenungkan itu semua, otak kiri saya juga berhitung. Logika saya mulai bekerja, berpikir bahwa sebesar apa pun niat baik saya, tidak akan menjadi tindakan konkret jika saya tidak punya modal untuk membangunnya. Modal itu bisa macam-macam, bisa tenaga, pikiran (ide), atau materi. Dan semua itu memerlukan biaya. Untuk menyumbangkan tenaga, misalnya menjadi volunteer, tetap dibutuhkan biaya setidaknya untuk transport. Untuk menyumbangkan ilmu, buah pikiran, atau ide, juga dibutuhkan biaya untuk mencari pengetahuan dan informasi. Apalagi ketika ingin menyumbangkan yang bersifat materi, jelas akan menyedot biaya juga. Saya bukan penganut kata-kata “uang adalah segalanya”, tapi terlalu naif untuk menyangkal bahwa segalanya memang perlu ditopang oleh keamanan finansial.
Jadi, kalau saya mengatakan bahwa saya bercita-cita agar suatu hari nanti saya bisa menjadi bagian dari upaya untuk memajukan peradaban dunia (pendidikan, pelestarian alam, perdamaian, dsb), maka saya harus menjadi kaya. Saya harus kaya untuk bisa membiayai semua cita-cita saya. Dengan menjadi kaya, saya akan bisa menuangkan ide-ide saya secara utuh.
And then "my dream book" will become "my diary book" someday.
Sungguh...aku pun ingin menjadi kaya.
ReplyDeletejika dengan kaya, aku mampu berbuat lebih untuk sesama...
berbuat lebih banyak dengan meringankan beban banyak orang.
aku pun ingin menjadi kaya, bukan karena uang segala-galanya.
aku ingin menjadi kaya, untuk membuktikan banyak harapan dan janjiQ pada Sang Khalik.
semoga cita-cita kita bisa tercapai mam..
ReplyDeleteniat yang baik semoga bisa terlaksana dengan baik juga,, hidup itu emang sementara, makanya di waktu yang sebentar ini kita kumpulkan rezeki biar bisa mengoptimalkan ibadah selagi masih diberi kesempatan di dunia... amiiin...