Kucing ini hanya kucing biasa. Tapi buatku dia lebih dari itu. Dia begitu spesial karena telah mengajariku tentang banyak hal. Saat pertama kali bertemu dengannya adalah ketika ekor mungilnya yang hitam muncul dari mulut rahim ibunya. Ibunya mengejan sekuat tenaga, sambil berbunyi pelan, menahan sakit. Sungguh mendebarkan menyaksikannya saat pertama menghirup nafas di dunia. Tubuh mungilnya basah, matanya terpejam, telinganya layu, dan kaki kecilnya gemetaran.
Malam itu, hingga pagi hari, sang induk melahirkan dua kucing kecil lagi, adik kembar dari kucing hitamku. Mereka semua merangkak-rangkak mencari ASI. Mereka saling berebut, mencakar, mengais-ngais di antara bulu lembut sang induk. Namun kucing hitamku ternyata sedikit berbeda, ia sedikit lamban dibandingkan saudara-saudaranya.
Setelah lewat beberapa hari, mata biru dari ketiga balita kucing itu mulai terlihat. Langkah-langkah mereka pun semakin terlatih. Mereka semua terus berkembang dari waktu ke waktu. Sampai pada waktu mereka mulai lincah bermain-main, memanjat2, dan berkeliling. Rasa penasaran mereka akan benda-benda di sekitarnya seperti tidak bisa ditahan lagi.
Pernah suatu kali ketiga balita kucing itu tiba-tiba berada di atas selimut merahku, mereka sedang bermain-main di sana. Dan aku menikmatinya, bermain bersama mereka. Aku masih ingat bagaimana cakarnya yang mungil menyentuh kakiku, juga telapak kakinya yang empuk, lembut, dan dingin. Tapi lagi-lagi, kucing hitamku tertinggal di antara dua saudaranya. Aku pernah sampai mengira kalau ia buta, karena ia seringkali menabrak benda di depannya.
Namun setelah diperhatikan, ternyata kucing hitamku tidak buta, tapi memang ia lamban. Cara berjalannya pun berbeda. Ia juga penakut. Karena itu ia seperti tertinggal di antara dua saudara kembarnya. Tapi ia begitu menarik perhatianku. Aku pun tidak putus asa melihatnya mengejar saudaranya.
Kucing hitamku, meskipun bodoh, lambat, penakut, tapi ia pada akhirnya bisa tumbuh besar. Menjadi kucing hitam yang tampan. Menjadi kucing yang berani mengejar keinginannya.
Ia mengajariku bahwa dengan keterbatasannya ternyata ia tetap bisa mendapatkan keinginannya dan mendapat tempat di hati majikannya. Kucing hitamku, dengan keterbatasan yang membuatku takut, ketika ia masih kecil, ternyata tidak bisa dijadikan ukuran bahwa dia tidak mampu menghadapi dunia. Kucing hitamku tetap tumbuh, dan memainkan perannya, menyampaikan pesan dengan caranya sendiri.

No comments :
Post a Comment