Kucing ini hanya kucing biasa. Tapi buatku dia lebih dari itu. Dia begitu spesial karena telah mengajariku tentang banyak hal. Saat pertama kali bertemu dengannya adalah ketika ekor mungilnya yang hitam muncul dari mulut rahim ibunya. Ibunya mengejan sekuat tenaga, sambil berbunyi pelan, menahan sakit. Sungguh mendebarkan menyaksikannya saat pertama menghirup nafas di dunia. Tubuh mungilnya basah, matanya terpejam, telinganya layu, dan kaki kecilnya gemetaran.
Malam itu, hingga pagi hari, sang induk melahirkan dua kucing kecil lagi, adik kembar dari kucing hitamku. Mereka semua merangkak-rangkak mencari ASI. Mereka saling berebut, mencakar, mengais-ngais di antara bulu lembut sang induk. Namun kucing hitamku ternyata sedikit berbeda, ia sedikit lamban dibandingkan saudara-saudaranya.
Setelah lewat beberapa hari, mata biru dari ketiga balita kucing itu mulai terlihat. Langkah-langkah mereka pun semakin terlatih. Mereka semua terus berkembang dari waktu ke waktu. Sampai pada waktu mereka mulai lincah bermain-main, memanjat2, dan berkeliling. Rasa penasaran mereka akan benda-benda di sekitarnya seperti tidak bisa ditahan lagi.



